/* more info: http://dubraw735.blogspot.com */ Blogger Widgets

LEGENDA R.T. ARUNGBINANG


Masih bersama wisata Kebumen dalam LEGENDA R.T. ARUNGBINANG. Setelah meninggalnya Sultan Agung Hanyakrakusuma tahun 1645 kekuasaan di serahkan kepada Sunan Amangkurat Agung ( Amangkurat I ). Didalam memegang kekuasaannya Sunan Amangkurat Agung bersifat otokratis, keras dan siapa saja yang tidak menyetujui kebijaksanaanya di hukum, bahkan hukuman mati, sebagai contoh salah seorang pamanaya (Pangeran Pekik – Adipati Surabaya) karena menentang kebijakannya di hukum mati. Melihat kondisi kerajaan yang tidak menentu, maka para pemimpin Mataram, termasuk Dewan Penasehatnya berjalan sendiri-sendiri. Ada yang pro raja dan ada yang tidak senang akan kebijakan raja. Dari kelompok kedua inilah sebagai diam, dan yang lain menyingkir keluar kotaraja supaya terhindar dari hukuman raja. Salah satu anggota dewan Penasehat (Dewan Parampara) yang menyingkir adalah Pangeran Bumidirjo yang merupakan adik dari Sultan Agung. Perjalanan pangeran Bumidirjo ke arah barat dengan harapan untuk menghindari pengejaran dan penangakpan petugas kerajaan. Salah satu caranya adalah dengan melepaskan seluruh jabatan dan pakaan kerajaan dan menamakan dirinya dengan sebutan Ki Bumi. Perjalanan Ki Bumi sampai ke Wilayah Panjer yang saat itu masih di bawah pimpInan Ki Gede Panjer II. Oleh pimpinan Panjer di beri tanah sebelah utarakelokan sungai Lukulo untuk di jadikan tempat tinggal. Kepergian Pangeran Bumidirjo Membuat Sunan Amangkurat Agung kehilangan sesuatau yang sangat berharga sehingga akhiirnya menyadari akan kesalahanya. Kemudian mengirim utusan untuk mencari keberadaan Pangeran Bumidirjo dengan tugas memdawanya kembali ke istana Mataram. Perjalanan utusan telah sampai ke wilayah panjer dan bertemu dengan Ki Bumi yang pada dasarnya adalah Pangeran Bumidirjo sendiri. Namun ternyata Ki Bumi tidak mau kembali ke istana, padahal utusan tersebut tuidak boleh pulang ke istana tanpa membawa Pangeran Bumidirjo. Daripada pulang di hukum mati, lebih baik menjadi pengikut Ki Bumi. Karena sudah di ketahui keberdaanya, Kemudian Ki Bumi dan utusan tersebut pindah ke arah timur ke daerah Lerep. Sepeninggal Ki Bumi pimpinan di serahkan kepada pembantu setianya yaitu Diporejo, Basek, Tromo, Taman, Banar, Mangun dan Keting. Diporejo tinggal di rumah Ki Bumi, sedangkan yang lain tersebar di sekitarnya. Bekas tempat tinggal Ki Bumi menjadi Ka Bumian, kemudian berkembang menjadi KEBUMEN, sedang tempat tinggal pembantunya, Ki Basek menjadi Kebasekan, Ki tromo menjadi Ketraman, Ki Taman menjadi Ketamanan, Ki BanarMenjadi Kebanaran, Ki Mangun menjadi Kemangunan, Dan Ki Ketug menjadi Ketugon. Perjalanan Ki Bumi di Lerep yang masih dapat di ketahui oleh utusan dari istana dan kemudian dipindah ke arah timur dan sampai akhir hayatnya dimakamkan di Desa Lundong Kecamatan Kutowinangun. Pangeran Bumidirjo atau Ki Bumi mempunyai anak Kyai Gusti, Kyai Bagus, Nyai Ageng, Nyai Bekel. Kedudukan Ki Bumi Setelah meninggal di gantikan oleh Ki Bekel, Berputra Kyai Ragil, dan Kyai Ragil Berputra Ki Hanggayuda yang menjadi Demang Di Kutowinangun. Sementara itu Nyai Ageng kawin dengan Demang Wernagaya dari Wawar dan melahirkan dua orang putri, yang pertama menjadi istri Demang Hanggayuda dan satunya lagi menjadi istri setelah menduduki tahta kerajaan Pangeran Puger dari Mataram yang Bergelar Sultan Pakubuwono I. Dari perkawinan tersebut melahirkan seorang anak laki-laki bernama Jaka Sangkrib yang kemudian di asuh Uwaknya di Kutowinangun. Namun karena mempunyai penyakit kulit yang tiak pernah sembuh maka di kucilkan oleh Saudara-saudaranya ( versi lain bahwa Ki Demang Hanggayuda memiliki tujuh anak yang slah satuya Jaka Sangkrib.). Kemudian Jaka Sangkrib mengembara mencari kesembhuan. Dan setelah mengalami beberapa pristiwa dan bertapa di dalam perut krbau sampai dengan mandi air Beji Kuwarasan maka sembuhlah penyakit kulitnya. Setelah sembuh, Jaka Sangkrib masih berusaha mengembara sampai ke Goa Menganti, Karangbolong dan menyusuri pantai selatan guna menambah ilmu fan kemampuan, dengan cara bertapa, dari bertapa dalam goa, memandang perjalanan matahari, asmpai tapa ngluwat di Pantai Brecong. Pegembaraan tersebut di akhiri dengan bertemu dengan Ibunya di Kademangan Wawar. Membantu memadamkan pemberontakan Demang Pekacangan terhadap Demang Hanggayuda di Kutowinangun. Setelah itu pengembaraan masih di teruskan dengan harapan bisa masuk ke dalam istana Mataram. Sewaktu bertapa di gunung Bulupitu bertemu dengan Dewi Nawangwulan yang siap membantu merealisir keinginan Jaka Sangkrib yang sudah berganti nama Surawijaya bisa bertemu dengan orang tuanya di Istana Mataram. Caranya, dengan mempercepat petugas pembawa upeti yang akan menuju ke Mataram. Usaha ini berhasil melancarkan perjalanan ke Istana Mataram. Sebelum diakui sebagai keluarga Istana, Surawijaya diminta memadamkan pemberontakan di Banyumas, dan berhasil dengan keberhasilan tersebut Jaka Sangkrib atau Surabaya diangkat menjadi Mantri Gladag dengan gelar Hangabehi Hangawangsa. Salah satu jasa yang lain adalah mencari tempat untuk memindahkan istana Mataram di Kartosuro yang sudah sangar karena sudah di masuki pemberontak seperti Trunajaya dan Mas Garendi. Sesuai dengan perhitungan Ngabehi Hanggawangsa yang telah bergelar Tumenggung Arungbinang menetapkan Soka sebagai ibukota yang baru dan usulan tersebut diterima sebagai sekarang ada. Dinasti Arungbinang berlangsung dalam delapan turunan dan Arungbinang I ( Jaka Sangkrib ) dan Arungbinang II menjabat Bupati Sewunumbakanyar di Surakarta. Arungbinang III menjabat Bupati Gunung di Kutowinangun. Sedangkan Arungbinang IV menjabat Bupati Kebumen mulai tahun 1833 dengan wilayah sebelah timur sungai Lukulo sampai Arungbinang VII. Arungbinang VIII menjabat Bupati Kebumen dengan wilayah sebagaimana sekarang 1936.

0 komentar:

Poskan Komentar

Maturnuwun sanget nggeh.........!!

TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG
Copyright © Nangkenne.blogspot.com